السَّلَامُ عَلَيْكُمْ
Siapa bilang santri cuma fokus belajar kitab dan hafalan?
Di balik rutinitas dan jadwal pesantren yang padat, ternyata ada juga santri yang sibuk mengasah logika dengan memecahkan soal-soal yang belum tentu bisa dijawab oleh teman sebayanya. Mereka beradu otak dengan siswa-siswa terbaik dari berbagai daerah. Ini adalah kisah tentang santri-santri terpilih yang berani keluar dari zona nyaman. Di tengah kewajiban menyeimbangkan waktu antara Halaqah, organisasi, dan kegiatan pondok, mereka juga bersiap menghadapi kompetisi sains paling bergengsi di Indonesia:
Olimpiade Sains Nasional (OSN)
Jelas ini bukan sesuatu yang bisa disebut “Mudah”. Di satu sisi, ritme kehidupan dengan segala kedisiplinanya tetap harus dijalankan. Di sisi lain, menaklukkan silabus OSN yang jauh melampaui kurikulum kelas menuntut fokus, waktu, dan pengorbanan ekstra. Nah, di sinilah mental khas seorang santri diuji. Pesantren mengajarkan lebih dari sekadar ilmu agama; dari sana lahir ketangguhan mental, daya juang yang gak kenal lelah, serta kebiasaan hidup mandiri yang membuat mereka gak mudah ciut ketika dihadapkan pada tekanan. Bayangin deh, pas yang lain bisa leluasa memanfaatkan waktu istirahat, mereka justru merelakan jam mereka demi berkutat dengan rumus-rumus rumit dan simulasi soal. Gak ada tuh yang namanya jalan pintas. Setiap soal yang dipecahkan, setiap materi yang dipahami dan setiap sesi pembinaan yang dijalani menjadi bagian cerita dari proses panjang yang dipersiapkan untuk menggapai satu tujuan:
OSN Provinsi Jawa Barat
Sebuah pencapaian yang jelas gak akan datang gitu saja. Mereka harus melewati pembinaan, latihan soal, dan persiapan intensif di sela-sela kesibukan sebagai santri. Membuat mereka harus belajar lebih disiplin dalam menentukan prioritas dan membagi waktu. Sampai pada akhirnya, 3 santri terbaik berhasil melangkah dan membawa nama sekolah menuju Provinsi Jawa Barat:
– Bidang Kebumian : Dhia Silmi (XI Saintek 2)
– Bidang Informatika : Yassar Muhammad Fajri (XI Saintek 1) dan Raihana Mumtaza Najma Diaz (XI Saintek 2)
Di tingkat provinsi, tantangannya tentu semakin besar. Mereka harus berhadapan dengan siswa-siswa terbaik dari berbagai daerah di Jawa Barat. Setiap peserta datang dengan kemampuan dan persiapan terbaiknya, membuat persaingan menjadi semakin ketat.
Terlepas dari hasil yang diraih, langkah mereka hingga tingkat Provinsi Jawa Barat sudah menjadi cerita tersendiri. Mereka datang dari lingkungan pesantren dengan rutinitas yang padat, tetapi mampu membuktikan bahwa kesempatan untuk berprestasi tidak berhenti pada satu bidang saja.
Hari ini mereka belajar menjadi santri yang mampu membagi waktu. Besok, bisa jadi mereka kembali membawa nama As-Syifa Sagalaherang di panggung yang lebih besar.
Karena perjalanan ini bukan hanya tentang seberapa jauh mereka berhasil melangkah, tetapi tentang keberanian untuk mengambil langkah pertama.
Dan mungkin, dari tiga santri yang hari ini beradu logika di dunia kompetisi, akan lahir nama-nama besar yang suatu hari nanti kembali membawa nama pesantren ini ke tempat yang lebih tinggi. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُم